Price War Derajat Terendah dalam Persaingan

Perang harga atau “Price War” merupakan persaingan yang derajatnya adalah paling rendah. Persaingan ini sangat lah tidak diharapkan. Ketika suatu industri atau market terjadi perang harga, maka yang terjadi adalah kerugian bagi semua pemain dalam industri tersebut. Para pelaku akan saling menjatuhkan harga, tentunya dengan memangkas margin keuntungan yang diperoleh. Nah petanyaannya adalah apakah dengan margin yang semakin mengecil tersebut akan memberikan laba terhadap usaha secara keseluruhan?

Fenomena disekitar kita, banyak sekali terjadi perang harga. Dulu di Jogjakarta bisnis warnet sangat marak, hampir disepanjang jalan kita bisa temukan warnet. Karena tumbuh menjamur maka hukum ekonomi berlaku “ketika supply berlimpah maka harga akan berkurang”. Maka terjadilah banting-bantingan harga.  Dengan pemangkasan harga, banyak yang mengalami “Pasak Lebih Besar Daripada Tiang”. Pendapatan mereka tidak mampu menutupi biaya operasional. Akhirnya banyak warnet yang kemudian gulung tikar. Sekarang bisnis warnet mulai stabil karena hanya menyisakan pemain yang mampu bertahan

Persaingan yang sangat ketat (Hypercompetition) saat ini juga terjadi ditengah kita. Yaitu persaingan antar operator seluler. Masing-masing berupaya memberikan layanan seluler semurah-murahnya.  Memang ada sisi positifnya terjadi price war yaitu Customer Diuntungkan. Mereka akan menikmati harga yang semakin murah, namun dampak negatif pun juga ada, yaitu :
1. pemain bisnis akan gulung tikar; kalau sudah begitu berarti pengangguran bertambah. 
2. para pemain menarik diri dari industri, sehingga yang terjadi adalah less supplies
3. monopoli; jika yang terjadi kemudian price war hanya menyisakan 1 atau 2 pemain, maka struktur pasar monopolistic dan oligopoli  dapat terjadi. Dan kita sangat tahu perilaku monopoli ini sangat merugikan customer

Kita bisa menghindar dari price war yaitu dengan cara mencipatakan nilai tambah “Value Added” dan membangun “Product Differentiation”. Dengan demikian maka kita tidak perlu terbawa pada  persaingan yang berdarah-darah.

Bagaimana membangun product differentiation? Ada berbagai macam cara.  Hermawan Kertajaya mengembangkan konsep “Positioning – Differentiation – Brand”. Dijelaskan bahwa ada 3 macam cara melakukan differentiation : 1. Content (what to offer), 2. Context (how to offer), 3. Infrastructure (enabler). Lebih lengkap akan saya ulas dalam tulisan khusus tentang differensiasi.

Ditulis oleh,
Yuda Wicaksana Putra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s