Substitute Product

Dalam dunia bisnis kita mengenal Substitute Product (Produk Pengganti). Termasuk dalam analisa Porter’s Five Forces salah satunya adalah substitute product. Keberadaan produk subsitusi dapat menjadi “threat” yang harus diwaspadai. Substitute product sendiri ada yang sifatnya perfect substitute (pengganti utama) dan inperfect substitute (tidak secara langsung).

Untuk Perfect Substitute produk ini dapat dikategorikan dalam beberapa jenis, yaitu :

1. Symiliar Characteristic Performance; keduanya memiliki karakteristik performa produk yang sama. Misalkan : Mercedez dengan BMW sebagai mobile mewah. Indosat bisa menjadi substitusi Telkomsel

2. Geographic Area; ketika dalam satu area geografis maka akan menjadi pesaing utama. Misalkan : Koran Kompas Jogja akan menjadikan KR sebagai product substitute utama

3. Occasion for Use; bisa dikatakan substitusi dikarenakan cara konsumsi yang sama. Coca Cola secara langsung akan menjadi substitusi product minuman cola/carbonasi seperti Pepsi. Namun ketika kita sedang berada dalam warung soto, bisa jadi pesaing coca-cola bukan pepsi, melainkan teh botol sosro, fruit tea dan lain sebagainya.

Meskipun sesama industri, namun cara mengkonsumsinya berbeda bisa dianggap bukain pesaing utama. Contoh lah : Equil dengan Aqua. Equil hanya menempatkan/mendistribusikan produknya keitempat-tempat tertentu (hotel dan cafe), oleh karena itu equil tidak perlu menjadikan aqua sebagai pesaing utama. Begitu sebaliknya

Perlu upaya untuk menghindari terjadinya produk substitusi secara langsung. Pada umumnya orang mencari produk substitusi dikarenakan faktor harga. Mereka berupaya dengan kinerja yang sama mereka akan mendapatkan harga yang lebih efisien. Ada metode yang dapat kita lakukan berkaitan harga adalah membuat “Price Discrimination”.

Metode tersebut antara lain :

1. Two Part Pricing; membuat paket-paket dari beberapa item produk. Misalkan : fiteness. Ada model paket. Paket 1 (fitness, renang, tenis), Paket 2 (Fitness, renang, Aerobic), atau model per satuan. Ketika dia membeli paket maka harga akan lebih murah dibandingkan satuan.

2. Blog Pricing; membeli dalam kuantiti tertentu lebih murah dibandingkan dengan satuan. Misalkan ketika kita beli Mie satu dus akan lebih murah dibandingkan beli satuan (dengan jumlah dan item yang sama)

3. Commodity Bundling; memberikan harga khusus untuk pembelian produk bundle/pelangkap. Misalkan beli komputer dengan software nya

4. Peak Load Pricing; ketika peak time maka harga lebih tinggi dibanding off peak. Tujuannya adalah melakukan subsidi. Misalkan ketika libuaran harga hotel lebih mahal.

5. Cross Price Subsidies; Satu harga menutup kerugian harga lainnya. Misalkan : Coca cola digratiskan ketika kita beli paket Pizza Hut untuk 4 orang. Harga pizza yang dijual pada dasarnya juga include harga minuman

6. Randomize Pricing; yaitu berusaha menciptkan kondisi uncertainty. Misalkan : melakukan discount pada watu-waktu tertentu

Dalam dunia saya di industri teknologi informasi (TI), sangat mudah untuk membuat substitute product (memiliki fungsi dan kinerja sama). Namun untuk menghindari terjadinya produk subsitusi maka peran leading technology menjadi penting. Salah satunya adalah mengkolaborasikan teknologi. Misalkan Sistem Informasi yang dikombinasikan dengan teknologi Mobile, Smartcard dll, dimana teknologi tersebut tidak mudah dikuasai oleh pesaing.

Ditulis oleh,
Yuda Wicaksana Putra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s